HUT RI 81
Internasional

Dapat ‘Kiriman Asap’ dari Indonesia, Malaysia Kirim Surat Protes ke Menteri Lingkungan Hidup RI

681
×

Dapat ‘Kiriman Asap’ dari Indonesia, Malaysia Kirim Surat Protes ke Menteri Lingkungan Hidup RI

Sebarkan artikel ini

Serawak dan Kalimantan adalah perbatasan dua negara Malaysia dan Indonesia

Warta Nasional – Malaysia akan menggunakan jalur diplomatik untuk menangani masalah kabut asap yang kian memburuk di negara itu, khususnya di Sarawak.

Seperti diketahui sejumlah wilayah di Malaysia terutama Serawak dipenuhi kabut asap dalam beberapa hari ini.

Asap itu berasal dari Kalimantan, Indonesia, akibat kebakaran lahan.

Serawak dan Kalimantan adalah perbatasan dua negara Malaysia dan Indonesia.

Sarawak negara bagian di Malaysia Timur, terletak pada barat laut Pulau Kalimantan.

Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Seri Mohamad Hasan menyatakan bahwa pemerintah memandang serius masalah kabut asap ini dan akan menggunakan jalur diplomatik untuk menyampaikan kekhawatiran Malaysia terkait polusi udara kepada Indonesia.

Ia mengatakan bahwa Menteri Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan (NRES), Datuk Seri Arthur Joseph Kurup, akan menyurati mitranya di Indonesia yakni Menteri Lingkungan Hidup RI dan juga mengangkat isu ini secara langsung kepada Sekretariat ASEAN.

Ia mencatat bahwa langkah ini merupakan upaya Malaysia untuk mengatasi kebakaran hutan dan kabut asap lintas batas melalui kerja sama regional, khususnya dengan memanfaatkan mekanisme ASEAN yang sudah ada.

“Mekanisme ASEAN lebih efektif dalam memastikan Sekretariat ASEAN dapat mengelola koordinasi bersama antara Malaysia dan Indonesia dalam menangani akar penyebab kebakaran hutan yang berkontribusi terhadap polusi udara lintas batas.

“Surat tersebut akan disampaikan kepada Sekretaris Jenderal ASEAN dalam satu atau dua hari ke depan untuk memungkinkan tindakan tindak lanjut segera dan koordinasi regional,” ujarnya dikutip dari Harian Metro Malaysia sore ini.

Sementara itu, angka Indeks Pencemar Udara (API) di stasiun pemantau kualitas udara di Markas Besar Kepolisian Distrik (IPD) Serian (bagian wilayah Serawak) menunjukkan peningkatan signifikan pagi ini sehingga menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga setempat yang tinggal di dekat perbatasan Malaysia-Indonesia.

Data dari portal Sistem Manajemen Indeks Pencemar Udara Malaysia (APIMS) menunjukkan angka API di Serian mencapai 242 pada pukul 06.00 pagi, yang menempatkannya dalam kategori “sangat tidak sehat”.

Situasi ini telah memicu kekhawatiran mengenai dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat—terutama bagi kelompok berisiko tinggi—serta menegaskan perlunya Malaysia dan Indonesia memperkuat kerja sama dalam menangani kebakaran hutan dan polusi udara lintas batas.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mendeteksi ada 3.759 titik panas (hotspot) di Kalimantan Barat (Kalbar).

Kondisi ini membuat wilayah tersebut menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kasatgas Informasi Bencana BPBD Kalbar, Daniel mengatakan penanganan karhutla terus diperkuat dengan menggabungkan operasi pemadaman melalui jalur darat dan udara.

“Dari ribuan hotspot tersebut, 224 titik masuk kategori tingkat kepercayaan tinggi, 3.389 titik tingkat kepercayaan menengah, sedangkan 146 titik berada pada tingkat kepercayaan rendah,” kata Daniel kepada wartawan, Jumat (21/8/2026).

Ketapang menjadi daerah dengan konsentrasi hotspot paling tinggi.

Sebanyak 1.795 titik terdeteksi di wilayah tersebut, termasuk 81 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Selain Ketapang, titik panas juga terpantau di Sanggau sebanyak 466 titik, Landak 268 titik, Kubu Raya 254 titik, Kayong Utara 200 titik, dan Melawi 190 titik.

Dampak karhutla mulai terasa. Kabut asap bahkan sempat menyebabkan jarak pandang di Ketapang dan Kubu Raya turun hingga di bawah satu kilometer pada pagi hari.

“Jarak pandang sempat turun di bawah satu kilometer akibat kabut asap tebal di Kabupaten Ketapang dan Kubu Raya pada pagi hari,” ucap Daniel.

Terkait dengan kualitas udara, di Jongkat, Kabupaten Mempawah, konsentrasi partikulat halus PM2.5 mencapai 148,8 mikrogram per meter kubik dan kualitas udara masuk kategori tidak sehat.

Di Sungai Tebelian, Sintang, tercatat mencapai 309,1 mikrogram per meter kubik dan Sungai Raya, Kubu Raya, konsentrasinya mencapai 254,1 mikrogram per meter kubik.