Warta Nasional – Kematian Jopi Sembiring (28), tahanan dalam perkara dugaan judi online, di RS Bhayangkara Tk. II Medan menyisakan sejumlah pertanyaan bagi keluarga.
Jopi sebelumnya menjalani penahanan di Rutan Kelas I Medan. Namun, keluarga mengaku masih sempat berkomunikasi dengannya melalui video call pada Minggu (16/8/2026) sekitar pukul 13.00 WIB.
Dalam komunikasi tersebut, keluarga menyebut Jopi masih terlihat dalam kondisi sehat.
Beberapa jam kemudian, kabar yang diterima keluarga justru berbeda. Jopi disebut telah berada di RS Bhayangkara Medan dan dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 16.30 WIB.
Perubahan kondisi yang terjadi dalam waktu relatif singkat itulah yang kemudian membuat keluarga mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi sebelum Jopi dilarikan ke rumah sakit.
Keluarga Temukan Lebam dan Bekas Luka
Kecurigaan keluarga semakin muncul setelah jenazah Jopi dipulangkan dan dimandikan.
Keluarga mengaku menemukan lebam pada bagian kiri dan kanan tubuh serta bekas luka di bagian belakang badan yang disebut menyerupai bekas sulutan rokok.
Namun, temuan tersebut belum dapat disimpulkan sebagai akibat penganiayaan atau penyiksaan. Penyebab pasti luka dan lebam tersebut masih membutuhkan pemeriksaan medis maupun forensik.
Karena itu, keluarga meminta agar kondisi jenazah diperiksa secara terbuka dan profesional untuk mengetahui penyebab kematian sekaligus memastikan asal-usul luka yang mereka temukan.
Bagi keluarga, pemeriksaan forensik penting agar tidak muncul spekulasi liar mengenai kematian Jopi.
Ditahan dalam Kasus Dugaan Judi Online
Selain mempertanyakan penyebab kematian, keluarga juga mempertanyakan proses hukum yang menjerat Jopi.
Jopi disebut ditangkap bersama tiga orang lainnya, yakni Romi, Fatil dan Amrih, dalam perkara dugaan judi online.
Keluarga mempertanyakan keterkaitan Jopi dengan telepon genggam yang disebut menjadi barang bukti dalam perkara tersebut.
Menurut keluarga, telepon genggam yang dipersoalkan tersebut disebut bukan milik Jopi.
Pertanyaan serupa juga muncul terkait status hukum tiga orang lain yang disebut diamankan bersama Jopi.
Namun, seluruh persoalan tersebut masih memerlukan penjelasan dari pihak penyidik dan aparat penegak hukum yang menangani perkara.
Apa yang Terjadi Beberapa Jam Sebelum Jopi Meninggal?
Kini, pertanyaan terbesar keluarga bukan hanya mengenai penyebab medis kematian Jopi.
Mereka ingin mengetahui apa yang terjadi terhadap Jopi selama berada dalam tahanan hingga akhirnya harus dilarikan ke rumah sakit.
- Kapan kondisi Jopi mulai memburuk?
- Siapa yang pertama kali mengetahui kondisi tersebut?
- Bagaimana prosedur penanganan ketika seorang tahanan mengalami gangguan kesehatan?
- Kapan Jopi dibawa ke rumah sakit?
- Dan apa hasil pemeriksaan medis sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dinilai penting karena Jopi meninggal ketika masih berstatus sebagai tahanan negara.
Artinya, rangkaian peristiwa sebelum kematiannya perlu dapat dijelaskan secara terang agar keluarga memperoleh kepastian dan publik tidak dibayangi berbagai spekulasi.
Pihak Rutan Bungkam
Awak media telah berupaya meminta klarifikasi kepada Kepala Rutan Kelas I Medan, Andi Surya, terkait kondisi Jopi selama berada di dalam tahanan serta kronologi sebelum yang bersangkutan dibawa ke rumah sakit.
Namun, hingga berita ini diterbitkan, pesan WhatsApp yang dikirim kepada Andi Surya belum mendapatkan tanggapan.
Dengan demikian, informasi mengenai kondisi Jopi sebelum meninggal, termasuk kronologi penanganannya hingga dibawa ke RS Bhayangkara, masih menunggu penjelasan resmi dari pihak Rutan maupun instansi terkait.
Keluarga Minta Kematian Jopi Tidak Berhenti pada Penyerahan Jenazah
Keluarga berharap kematian Jopi tidak berhenti pada proses pemulangan dan pemakaman jenazah.
Mereka meminta adanya pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi tubuh almarhum, prosedur penanganan kesehatan selama berada di tahanan, serta kronologi lengkap sebelum Jopi dinyatakan meninggal.
Jika nantinya pemeriksaan membuktikan adanya kelalaian atau pelanggaran hukum, keluarga berharap proses hukum dilakukan secara tegas.
Sebaliknya, apabila hasil pemeriksaan menyatakan kematian Jopi murni disebabkan faktor medis, keluarga juga meminta hasil tersebut disampaikan secara transparan sehingga penyebab kematian dapat diketahui secara jelas.
Sebab, pertanyaan keluarga saat ini sederhana: jika Jopi masih terlihat sehat saat berkomunikasi dengan keluarganya sekitar pukul 13.00 WIB, apa yang terjadi dalam beberapa jam berikutnya hingga ia dinyatakan meninggal pada sore harinya?
Jawaban atas pertanyaan itu kini menjadi penting untuk memastikan kematian seorang tahanan tidak meninggalkan tanda tanya yang berkepanjangan.












