HUT RI 81
DaerahTeknologiYogyakarta

Sempat Tolak Pesanan MBG 30 Ribu Pcs, UKM Putri 21 Gunungkidul Kini Diperkuat Mesin Extruder Hasil Kolaborasi UAD-UMY

67
×

Sempat Tolak Pesanan MBG 30 Ribu Pcs, UKM Putri 21 Gunungkidul Kini Diperkuat Mesin Extruder Hasil Kolaborasi UAD-UMY

Sebarkan artikel ini

Program ini didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI

Warta Nasional – Peluang besar untuk memasok kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) terpaksa dilewatkan KWT/UKM Putri 21, kelompok usaha pengolahan pangan lokal di Dusun Sumberejo, Kelurahan Ngawu, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul.

Bukan karena tidak memiliki pasar, melainkan karena keterbatasan kapasitas produksi.

Ketua kelompok, Suti Rahayu, mengungkapkan pihaknya pernah menolak tawaran pengadaan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang permintaannya mencapai 30.000 pcs beras olahan per bulan, karena kapasitas produksi mereka saat ini hanya mampu memenuhi sekitar 14.000 pcs per bulan dengan mengandalkan satu unit mesin extruder.

“Kami sebenarnya senang sekali waktu ada tawaran itu, tapi mau bagaimana lagi, mesin kami cuma satu dan sudah jalan terus setiap hari. Kalau dipaksakan, nanti pesanan rutin yang selama ini sudah jalan malah keteteran,” ujar Suti kepada awak media, Selasa (18/8).

UKM Putri 21 bukanlah kelompok usaha yang baru tumbuh. Didirikan sejak 2011, kelompok tersebut kini beranggotakan sekitar 40 ibu rumah tangga dan telah mengembangkan berbagai produk beras analog berbahan baku non-padi.

Bahan bakunya antara lain tepung singkong, pisang, sukun, jagung, garut hingga ubi jalar.

Produk mereka telah dipasarkan ke sejumlah wilayah, tidak hanya di Yogyakarta, tetapi juga Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

Dengan pengalaman lebih dari satu dekade dan pasar yang telah terbentuk, persoalan utama yang dihadapi UKM Putri 21 kini justru terletak pada kemampuan memenuhi permintaan dalam jumlah besar.

Kolaborasi Dua Kampus

Menjawab persoalan tersebut, tim dosen dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggandeng UKM Putri 21 dalam program pengabdian kepada masyarakat skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat.

Program ini diketuai oleh Fitria Nurma Sari, dosen Program Studi Perbankan Syariah UAD, bersama dua anggota tim, yaitu Mufti Alam Adha (Perbankan Syariah UAD) yang berfokus pada penguatan manajemen usaha, dan Chandra Kurnia Setiawan (Agroteknologi UMY) yang menangani aspek produksi dan bahan baku.

“Kami melihat UKM Putri 21 ini sebenarnya sudah punya pasar yang bagus dan pengalaman usaha lebih dari satu dekade, tinggal dua hal yang perlu diperkuat, yaitu kapasitas produksinya dan tata kelola keuangannya. Kalau dua hal ini dibenahi, kami yakin kelompok ini bisa naik kelas,” kata Fitria.

Kegiatan ini merupakan Program Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, dalam skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat.

Program ini menyasar dua persoalan utama yang selama ini menghambat pengembangan UKM Putri 21: keterbatasan kapasitas produksi akibat jumlah mesin extruder yang belum memadai, serta pengelolaan keuangan usaha yang belum tertata secara sistematis, termasuk belum adanya pemisahan antara keuangan usaha dan rumah tangga, serta belum adanya perhitungan harga pokok produksi (HPP).

Mesin Tambahan Sedang Diproduksi

Sebagai solusi pada aspek produksi, tim pelaksana mengadakan satu unit mesin extruder tambahan berkapasitas 10-15 kg sebagai teknologi tepat guna (TTG). Pada 10-12 Juli 2026, tim melakukan kunjungan ke Surabaya untuk melakukan survei sekaligus memesan langsung mesin tersebut ke produsen. Saat ini mesin masih dalam proses fabrikasi, dengan estimasi waktu penyelesaian sekitar 45 hari sejak tanggal pemesanan.

Selain pengadaan mesin, tim pelaksana turut merancang program pelatihan dan pendampingan manajemen keuangan usaha bagi anggota UKM Putri 21. Pemetaan awal kebutuhan mitra telah dilakukan melalui kunjungan dan diskusi langsung dengan Suti Rahayu pada 17 Juli 2026, sementara pelatihan pencatatan keuangan sederhana, pemisahan keuangan usaha-rumah tangga, hingga perhitungan HPP dijadwalkan berlangsung akhir Agustus 2026.

Harapan ke Depan

Dengan tambahan mesin extruder, kapasitas produksi UKM Putri 21 diproyeksikan meningkat signifikan sehingga mampu menyerap lebih banyak bahan baku singkong dari petani lokal, sekaligus membuka peluang menerima pesanan dalam skala besar yang selama ini terpaksa ditolak. Program ini juga diharapkan memperkuat peran perempuan pelaku usaha di Gunungkidul dan mendukung upaya diversifikasi pangan lokal berbasis non-padi.

“Kalau mesinnya sudah datang, harapan kami produksi bisa lebih lancar dan kami bisa terima pesanan yang lebih besar tanpa was-was kekurangan alat. Semoga juga setelah ada pendampingan pembukuan, kami jadi lebih tahu untung-rugi tiap produk,” kata Suti Rahayu berharap.