(Seri Politik Nasional)
Batu Bara | Warta Nasional, Tanpa berhitung lebih lama lagi para ketua partai dikumpulkan presiden untuk membentuk koalisi besar terdiri dari partai Gerindra, Golkar, PKB, PPP, PAN, bahkan kemungkinan PDIP ikut bergabung dengan catatan, Megawatl ingin Puan ditetapkan sebagai capresnya.
Pertemuan yang diinisiasi Presiden Jokowi dilihat publik sebagai kepanikan para elit melihat perkembangan politik dan tuntutan angin perubahan terutama semakin dekatnya pendaftaran calon presiden beberapa bulan lagi ,lalu siapa yang dikhawatirkan sehingga perlu membentuk koalisi besar.
Tak ada asap kalau tak ada api, kesulitan masing masing pimpinan partai menetapkan Koalisi permanen dalam urusan capres cawapres dalam beberapa bulan belakangan ini dengan berbagai pertimbangan menunjukkan para elit ketua partai itu tidak yakin dengan langkahnya sendiri dalam koalisi yang sudah dirintisnya bersama seperti halnya koalisi KIB, dan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya malah yang terjadi sebaliknya Gonta ganti komunikasi yang menggelikan bagi tontonan publik. Mengapa?, karena koalisi itu terlalu banyak dibumbui kepentingan pribadi elit partai bukan serapan aspirasi yang digodok berdasarkan langkah partai menyerap aspirasi.
Aspirasi cukup diambil lewat survei yang berbau order kemudian di kapitalisasi menjadi keputusan partai yang belakangan elit itu menjadi bingung sendiri sehingga diperlukan keberadaan presiden untuk menyatukannya disinilah terlihat betapa paniknya pimpinan partai itu dalam mengkonsolidasikan kekuatan untuk menghempang angin perubahan yang telah dibangun oleh koalisi perubahan untuk persatuan dalam hal ini koalisi tiga partai Nasdem Demokrat, PKS.
Berputar putar nya sikap partai koalisi yang berujung pembentukan koalisi besar sebenarnya masih tanda tanya benarkah mereka berhasil membentuk koalisi besar itu dalam waktu dekat ini?, apalagi dengan modal hitungan siapa dapat apa karena berasumsi akan menang,justru akan menambah dilema tersendiri dalam koalisi besar itu nantinya, politik yang terlalu pede dengan hitungan koalisi gemuk akan memenangkan pertandingan tak lebih sebagai over estimasi, over size, over load dalam ber kalkulasi.
Kepercayaan diri yang berlebihan akan menimbulkan masalah serius dalam memenangkan pertandingan,karena yang menentukan sebenarnya rakyat pemilih bukan banyaknya partai partai itu bergabung, justru menimbulkan antipati pemilih dan mencurigai bahwa partai partai itu tidak serius memikirkan rakyat lebih memikirkan elit dan kepentingannya sendiri.
Dalam perspektif politik ini yang disebut politik buta yaitu kehilangan kepekaan dalam memahami masalah kehilangan pertimbangan, soal aspirasi, ideologi, bahkan soal soal yang lebih fundamental yaitu nasib bangsa.Kita akan melihat sampai berapa lama rencana koalisi ini akhirnya sepakat untuk tidak sepakat atau mereka mufakat membentuk koalisi besar yang berangkat dari kecemasan akan kehilangan kekuasaan untuk menyelamatkan diri dari kemarahan publik selama ini yang terabaikan aspirasinya.
Angin perubahan wind of change melalui Anies tentu saja akan selalu ditunggu publik sehingga pertarungan pilpres 2024. begitu tingginya warna warni politik yang mulai menyatu menjadi perspektif gagasan perubahan bersama koalisi perubahan untuk persatuan jika tidak ada peristiwa lain dari kepastian pemilu sesuai jadual tentu ini sangat menyulitkan bagi oligarki untuk meneruskan kue kekuasaannya yang telah dinikmati puluhan tahun kini sudah saatnya mereka hengkang dari habitat pengusaha penguasa ke habitatnya yang baru itupun kalau dikasih peluang lagi. (Red),
(Penulis Pengamat Sosial Politik dan Kebijakan Publik LKPI).



